Bumi Allah, 24 November 2011
Demi Dzat yang menguasai langit dan bumi
"Fikirkanlah karunia-karunia Allah Swt. Dan jangan fikirkan tentang (zat) Allah Swt.”. (HR. Thabrani di dalam kitab al Ausath, al Baihaqy di dalam kitab Asysyu’b dan di hasankan oleh Syekh al Baani).
Sebuah Abstrak yang Nyata dibalik Semangat Metamorfosismu
Mataku terpana ketika gumpalan kecil dari daun-daun kering itu mulai bergerak.
Senyumku
pun mulai melebar ketika sebuah kupu-kupu indah dengan sayap
warna—warni cerah bergerak pelan keluar dari gumpalan daun itu.
Gumpalan daun yang melekat pada kotak yang ku pegang.
Ia terbang perlahan seolah-olah menyapa dunia yang pertama kali ia lihat. Terbang pelan dihadapanku.
Indah, sungguh indah…akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia.
Yang tadi malam itu benar-benar mimpi yang indah…
“Hi,
kepompong kecil…kau nanti harus jadi kupu-kupu yang cantik yah” ucapku
sambil mengelus pelan kepompong dari ulat kamboja jepang yang kutaruh di
sebuah kotak kertas.
Aku
duduk memangku kotak itu, sambil terus memperhatikan kepompong dan
daun-daun kering yang sengaja kutaruh di dalam kotak kertas itu
untuknya.
Aku kembali mengingat saat ia masih menjadi ulat daun, berwarna hijau dan sangat menggemaskan.
Aku tersenyum.
“Mau kau apakan ulat daun itu wiwid?” Tanya ibuku heran melihat tingkahku, memungut ulat sebesar telunjuk ibuku itu.
“Ulat
ini tadi disingkirkan Ayah, sewaktu ia membersihkan bunga-bunga kamboja
miliknya” Aku mulai memainkan ulat itu di tanganku, membuat ibu dan
saudara-saudaraku geli melihatnya.
“Aku akan mencari kotak dan menyimpannya, sampai menjadi kupu-kupu”
Aku
mulai mencari kotak kecil untuk ulat itu, memetik daun-daun untuknya.
Hari pertama ia begitu agresif berusaha keluar dari kotak. Aku sampai
kewalahan mencarinya dan memasukkannya ketika ia keluar dari kotak.
Hari kedua…
Aku
mulai khawatir ketika ia tidak terlihat agresif seperti kemarin. Aku
mulai mengumpulkan daun kalau-kalau ia ngambek karena makanannya kurang.
Bukannya memakan daun-daun yang aku beri, ia malah berusaha bersembunyi di balik daun-daun hijau itu.
Aku
tersenyum, ternyata ia beneran ngambek. Akupun membantunya menyelimuti
tubuh hijaunya dengan daun-daun itu. Sampai keesokannya ia masih
berusaha menyelimuti tubuhnya dengan tumpukan-tumpukan daun itu.
Hari kelima…
Aku
terkejut ketika aku tidak menemukan ulat kecilku saat aku membuka
kotaknya, aq panik sesaat karena berpikir ia hilang. Tapi aku heran
sekaligus penasaran ketika aku menemukan gumpalan daun di pinggir kotak
itu, aku terus mengamati mengapa gumpalan daun itu bisa merekat di
dasar kotak.
Hufttt ;)
Subhanallah….
Ternyata ulatku kini menjadi sebuah kepompong kecil…
Aku meletakkannya di tepi jendela, agar sinar hangat mentari bisa menghangatkannya.
Tak
pernah bosan aku memperhatikannya, menantinya dengan sabar…karena yang
aku tahu, lama kepompong menjadi kupu-kupu antara 7 sampai 20 hari.
Dan sudah dua minggu ini, aku terus mendoakannya agar berhasil menjadi kupu-kupu indah yang akan menghiasi dunia ini.
Sama seperti mimpiku semalam…
Terima kasih kepompong kecilku…
Aku menemukan semangat besar dibalik kepompong kecilmu...
Kau telah mengajarkan banyak hal untukku.
Belajar untuk sabar, dan belajar untuk memaknai hidup.
Aku malu ketika aku mulai putus asa dan mengeluh.
Dan kau memberiku semangat. Sama dengan semangat metamorfosismu.
Aku pun ingin bermetamorfosis sepertimu, menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Menjadi
manusia yang selalu bersabar menjalani apa yang telah ditetapkan-Nya.
Menjadi manusia yang tak mudah berputus asa. Tak pernah lelah berusaha
& berdoa menuju ridho-Nya yang Indah…
Terima kasih untuk semangatmu…
Kepompong kecilku.. :')
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia
(Ar-Rahman : 77-78)












