Mengenai Saya

Foto saya
aku Hartati WIdya Ningrum. Seoarang perempuan yang kuat, tegar, dan menyenangkan. ^^

Caution !

Untuk melihat Blog Archive, klik tanda panah hitam.

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Cari Blog Ini

Sabtu, 25 Mei 2013

Seperti setitik embun yang jatuh dari daun di pagi hari...
Sperti mentari yang slalu datang di fajar hari...
Seperti rembulan yang datang di kala langit yang cerah...

Seperti itulah cinta yang aku berikan untukmu...
Tak pernah berharap untuk kau khususkan...

Tapi...
Aku bagai bunga yang layu tak tersiram oleh setitik air pun
Aku seperti rumbut yang setiap hari terinjak dan terabaikan

Cahaya seperti tak bersinar...
Malam seperti tak berbulan...
Itulah yang aku rasakan saat ini...
Kau seperti tak memperdulikan aku...

Padahal...
Setiap kata yang aku untaikan
Setiap fikiran yang ada di otak ku hanya tertuju padamu...

Tapi.kau hanya mengabaikan semua itu...

Langit seakan selalu mendung di sepanjang hari
Cahaya lampu kamar ku seakan meredup saat aku melihat nya...

Sekarang...Aku terbuang,aku terinjak-injak,aku rapuh,aku layu...

Cinta ku pada mu bagaikan rumput yang tumbuh dengan sendirinya...
Sedikit demi sedikit tumbuh,di bantu oleh air hujan dan tanah
Akar yang semakin kuat...
Akar yang semakin dalam ke tanah...
Hingga rumput itu dapat berdiri kuat tanpa seorang pun yang menemaninya...
Hanya air dan tanah yang dapat membuat nya berdiri kuat dan tegar

Tiba saat nya kamu datang dan kamu injak sendiri rumput yang telah kamu tanam
Kamu abaikan...
Kamu tidak rawat rumput itu...
Malah kamu merendahkan rumput itu...
Kamu campakkan rumbut itu...

Dan...
Rumput itu merasa terbuang...
Rumput itu merasa terasingkan...
Rumput itu merasakan sakit yang amat dalam...
Rumput itu rapuh...

Tetapi,yang membuat rumput itu kuat hanyalah tanah...
Tanh yang mendorong untuk tegar...
Tanah yang mendorong untuk tetap kuat berdiri...
Dan tanah yang menyuruh untuk tetap bertahan di injak dan di abaikan

Sampai kapan rumput akan terinjak?
Sampai kapan rumput akan terabaikan?
Sampai kapan rumput itu tidak berkepemilikan/
Sampai kapan rumput itu rapuh?
Sampai kapan rumput itu harus bertahan kuat?

Sedangkan setitik air hujan tak membasahi nya lagi...
Yang dia dapat hanyalah terinjak dan terabaikan...

Bagaimana kalau rumput itu mati?
Bagaimana kalau rumput itu layu?
Bagaimana kalau rumput  itu tidak kuat berdiri lagi?
Bagaiman kalau tanah yang kemarin ada,tiba-tiba menghilang seketika?
Dan rumput itu mati tanpa air dan tanah

Langit seketika gelap dan mendung...

Apakah pemilik rumput menyesal akan perbuatan nya?
Apakah pemilik rumput mencari rumput nya yang telah hilang?
Apakah pemilik rumput akan mencoba menanam dan memperbaiki rumput yang telah mati itu?
Apakah pemilik rumput merasa amat berdosa karna telah menginjak dan mengabaikan rumput itu?

Aku bagai rumput itu...
Aku terinjak...
Aku Layu...
Dan aku terabaikan...

Itulah yang aku rasakan saat ini...
Itulah yang aku pendam slama ini...

Kuat
Bertahan
Sabar
Tegar
Bersyukur
Hanya kata-kata itu yang bisa membuat ku bertahan...

 Akan bertahan sekuat hati...
Akan berjuang sepenuh jiwa...
Akan kuat dan tegar...
Akan slalu mensyukuri hidup...

Seperti itulah cinta ku kepadamu...Yang berharap untuk kau cintai...





Read more...
separador

Jumat, 14 September 2012

Semangat Besar dibalik Kepompong Kecilku

Bumi Allah, 24 November 2011
Demi Dzat yang menguasai langit dan bumi


"Fikirkanlah karunia-karunia Allah Swt. Dan jangan fikirkan tentang (zat) Allah Swt.”. (HR. Thabrani di dalam kitab al Ausath, al Baihaqy di dalam kitab Asysyu’b dan di hasankan oleh Syekh al Baani).


Sebuah Abstrak yang Nyata dibalik Semangat Metamorfosismu


Mataku terpana ketika gumpalan kecil dari daun-daun kering itu mulai bergerak.
Senyumku pun mulai melebar ketika sebuah kupu-kupu indah dengan sayap warna—warni cerah bergerak pelan keluar dari gumpalan daun itu. 
Gumpalan daun yang melekat pada kotak yang ku pegang.

Ia terbang perlahan seolah-olah menyapa dunia yang pertama kali ia lihat. Terbang pelan dihadapanku.

Indah, sungguh indah…akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia.


Yang tadi malam itu benar-benar mimpi yang indah…


“Hi, kepompong kecil…kau nanti harus jadi kupu-kupu yang cantik yah” ucapku sambil mengelus pelan kepompong dari ulat kamboja jepang yang kutaruh di sebuah kotak kertas.


Aku duduk memangku kotak itu, sambil terus memperhatikan kepompong dan daun-daun kering yang sengaja kutaruh di dalam kotak kertas itu untuknya.
Aku kembali mengingat saat ia masih menjadi ulat daun, berwarna hijau dan sangat menggemaskan.
Aku tersenyum.


“Mau kau apakan ulat daun itu wiwid?” Tanya ibuku heran melihat tingkahku, memungut ulat sebesar telunjuk ibuku itu.


“Ulat ini tadi disingkirkan Ayah, sewaktu ia membersihkan bunga-bunga kamboja miliknya” Aku mulai memainkan ulat itu di tanganku, membuat ibu dan saudara-saudaraku geli melihatnya.


“Aku akan mencari kotak dan menyimpannya, sampai menjadi kupu-kupu”


Aku mulai mencari kotak kecil untuk ulat itu, memetik daun-daun untuknya. Hari pertama ia begitu agresif berusaha keluar dari kotak. Aku sampai kewalahan mencarinya dan memasukkannya ketika ia keluar dari kotak.


Hari kedua…
Aku mulai khawatir ketika ia tidak terlihat agresif seperti kemarin. Aku mulai mengumpulkan daun kalau-kalau ia ngambek karena makanannya kurang.
Bukannya memakan daun-daun yang aku beri, ia malah berusaha bersembunyi di balik daun-daun hijau itu.
Aku tersenyum, ternyata ia beneran ngambek. Akupun membantunya menyelimuti tubuh hijaunya dengan daun-daun itu. Sampai keesokannya ia masih berusaha menyelimuti  tubuhnya dengan tumpukan-tumpukan daun itu.


Hari kelima…
Aku terkejut ketika aku tidak menemukan ulat kecilku saat aku membuka kotaknya, aq panik sesaat karena berpikir ia hilang. Tapi aku heran sekaligus penasaran  ketika aku menemukan gumpalan daun di pinggir kotak itu, aku terus mengamati mengapa gumpalan daun itu bisa merekat di dasar kotak.


Hufttt ;)
Subhanallah….
Ternyata ulatku kini menjadi sebuah kepompong kecil…
Aku meletakkannya di tepi jendela, agar sinar hangat mentari bisa menghangatkannya.


Tak pernah bosan aku memperhatikannya, menantinya dengan sabar…karena yang aku tahu, lama kepompong menjadi kupu-kupu antara 7 sampai 20 hari.
Dan sudah dua minggu ini, aku terus mendoakannya agar berhasil menjadi kupu-kupu indah yang akan menghiasi dunia ini.
Sama seperti mimpiku semalam…

Terima kasih kepompong kecilku…
Aku menemukan semangat besar dibalik kepompong kecilmu...


Kau telah mengajarkan banyak hal untukku.
Belajar untuk sabar, dan belajar untuk memaknai hidup.


Aku malu ketika aku mulai putus asa dan mengeluh.
Dan kau memberiku semangat. Sama dengan semangat metamorfosismu.
Aku pun ingin bermetamorfosis sepertimu, menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Menjadi manusia yang selalu bersabar  menjalani apa yang telah ditetapkan-Nya. Menjadi manusia yang tak mudah berputus asa. Tak pernah lelah berusaha & berdoa menuju ridho-Nya yang Indah…



Terima kasih untuk semangatmu…
Kepompong kecilku.. :')





Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia
(Ar-Rahman : 77-78)

Read more...
separador

Someone

Someone
Taufik Satrio. Dia adalah setengah dari hidup ku .... untuk saat ini, esok, dan entah sampai kapan.

Followers

it's time

Chat Box